Oleh: dr. Adika Mianoki, Sp.S.
Mari sejenak kita merenungi beberapa faedah dari sebuah
hadits yang agung tentang keutamaan menuntut ilmu. Diriwayatkan dalam shahihain,
dari sahabat Mu’awiyah radhiyallahu ‘anhu bahwasanya Nabi shallallahu ‘alaihi
wa sallam bersabda:
مَنْ
يُرِدِ اللهُ بِهِ خَيْرًا يُفَقِّهْهُ فِي الدِّينِ
“Barangsiapa yang Allah kehendaki kebaikan
baginya, maka Allah akan memberikan kefaqihan (pemahaman) agama baginya.“ (Muttafaqun
‘alaihi)
Hadits ini hendaknya kita renungkan baik-baik
karena ini merupakan hadits yang penting dan agung. Dalam hadits ini terdapat
motivasi untuk mempelajari ilmu agama dan penyebutan keutamaan bagi orang yang
Allah beri taufik untuk menempuh jalan dalam rangka menuntut ilmu. Beberapa
faidah penting dari hadits ini di antaranya:
Faedah Pertama
Bahwasanya segala sesuatu terjadi atas kehendak
Allah. Tidak ada satu kejadian pun kecuali pasti dikehendaki oleh Allah. Setiap
karunia, nikmat, dan pemberian yang diperoleh hamba semuanya berasal dari
Allah. Allah Ta’ala berfirman:
وَمَا
تَوْفِيقِي إِلاَّ بِاللّهِ عَلَيْهِ تَوَكَّلْتُ وَإِلَيْهِ أُنِيبُ
“Dan tidak ada taufik bagiku melainkan dengan
(pertolongan) Allah. Hanya kepada Allah aku bertawakkal dan hanya
kepada-Nya-lah aku kembali.“ (Huud: 88)
Ini adalah landasan pokok akidah yang penting yang
wajib diimani, bahwasanya segala sesuatu terjadi atas kehendak Allah. Tidaklah
engkau mendapat ilmu dan amal kecuali karena Allah memberikan taufik kepadamu
dan memberi anugerah nikmat kepadamu dengannya. Dialah yang mengajarkan hamba
tentang ilmu yang tidak diketahui sebelumnya. Dialah yang memberikan taufik
kepada hamba untuk beramal dengan ilmu yang telah dipelajari. Semua terjadi
atas kehendak-Nya. Allah Ta’ala berfirman:
الرَّحْمَنُ
عَلَّمَ الْقُرْآنَ
“Allah Yang Maha Penyayang, Yang telah
mengajarkan Al Qur’an.“ (Ar Rahman : 1-2)
Ilmu dan setiap nikmat adalah merupakan anugerah
dari Allah Ta’ala. Oleh karena itu wajib bagi setiap penuntut ilmu untuk
menghadirkan keyakinan yang benar dalam masalah ini dan dalam setiap masalah
dalam agama ini, bahkan juga dalam setiap kemaslahatan yang didapat oleh hamba
baik berupa perkara dunia maupun akhirat.
Faedah Kedua
Hadits ini menunjukkan tentang tentang pentingnya
tawakal kepada Allah dan meminta pertolongan hanya kepada-Nya. Rasul shallallahu
‘alaiahi wa sallam bersabda:
احْرِصْ
عَلَى مَا يَنْفَعُكَ وَاسْتَعِنْ بِاللَّهِ
“Semangatlah dalam hal yang bermanfaat untukmu,
minta tolonglah kepada Allah, dan jangan malas (patah semangat).” (HR.
Muslim)
Orang yang menuntut ilmu membutuhkan pertolongan
dari Allah dalam keberhasilannya menuntut ilmu. Demikian pula dia butuh
pertolongan Allah untuk mengamalkan ilmu yang sudah dipelajari. Dia juga butuh
pertolongan untuk tetap teguh dalam mempelajari ilmu dan mengamalkannya. Rasul shallalllahu
‘alaihi wa sallam pernah bersabda kepada Mu’adz radhiyallahu ‘anhu:
إِنِّي
لأُحِبُّكَ يَا مُعَاذُ، لاَ تَدَعَنَّ دُبُرَ كُلِّ صَلاَةٍ أَنْ تَقُولَ:
اللَّهُمَّ أَعِنِّي عَلَى ذِكْرِكَ وَشُكْرِكَ وَحُسْنِ عِبَادَتِكَ
“Demi Allah, aku sungguh mencintaimu. Aku
wasiatkan padamu, janganlah engkau lupa untuk mengucapkan pada akhir shalat
(sebelum salam):
اللَّهُمَّ
أَعِنِّى عَلَى ذِكْرِكَ وَشُكْرِكَ وَحُسْنِ عِبَادَتِكَ
[Ya Allah, tolonglah aku agar selalu
berdzikir/mengingat-Mu, bersyukur pada-Mu, dan memperbagus ibadah pada-Mu].”
(HR. Abu Daud dan Ahmad, shahih)
Maka seorang penuntut ilmu senantiasa butuh
pertolongan Allah untuk bisa menuntut ilmu, mengamalkan apa yang sudah diilmui,
dan agar tetap tegar di atas jalan ilmu adan amal. Dia juga butuh pertolongan
Allah agar selamat dari berbagai pemikiran menyimpang yang banyak terjadi
ketika seseorang meniti jalan ilmu dalam rangka menuju Allah.
Faedah Ketiga
Pentingnya doa dalam kehidupan penuntut ilmu dan
pentingnya senantiasa meminta pertolongan Allah Ta’ala karena seluruh urusan
berada di tangan-Nya. Kebutuhan hamba terhadap doa adalah kebutuhan yang sangat
penting. Seorang tabi’in pernah berkata:
تأملت
الخير فرأيت الخير كثير -الصلاة خير ، والصيام خير ، والبر خير- الخير كثير، ووجدت
أن ذلك كله بيد الله ، فأيقنت أن الدعاء مفتاح كل خير
“Aku merenungkan tentang kebaikan dan aku
berpandangan bahwa kebaikan itu sangatlah banyak. Shalat adalah kebaikan, puasa
adalah kebaikan, berbakti kepada orangtua juga adalah kebaikan. Kebaikan sangat
banyak jumlahnya. Aku mendapati bahwasanya seluruhnya berada di tangan Allah,
sehingga aku yakin bahwasanya doa adalah kunci dari setiap kebaikan.“
Oleh karena itu selayaknya bagi hamba untuk
memperbanyak doa kepada Allah Ta’ala, di antaranya doa agar Allah memberi ilmu
yang bermanfaat baginya. Di antara petunjuk Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam sebagaimana
terdapat dalam hadits Ummu Salamah radhiyallahu ‘anha, bahwasnya Nabi berdoa
setiap pagi setelah selesai shalat subuh dengan ucapan:
اللهُمَّ
إِنِّي أَسْأَلُكَ عِلْمًا نَافِعًا، وَرِزْقًا طَيِّبًا ، وَعَمَلًا مُتَقَبَّلًا
“Ya Allah, aku mohon kepada-Mu ilmu yang
bermanfaat, rezekiyang thayyib, dan aman yang diterima.“ (H.R Ibnu Majah, shahih)
Tiga perkara yang terkumpul dalam doa ini di awal
setiap pagi merupakan tujuan yang diharapkan oleh setiap muslim di sepanjang
harinya. Nabi mengawali dengan ilmu sebelum perkara lainnya dalam doa ini
memberi faidah bahwa ilmu adalah merupakan perkara awal yang dibutuhkan setiap
muslim. Maka termasuk kerugian yang besar adalah seorang yang melewati harinya
tanpa mendapatkan ilmu syar’i sedikitpun.
Doa dalam hadits ini juga memberi faidah bahwa
menuntut ilmu adalah tujuan harian bagi seseorang. Ini adalah faidah yang
agung. Dalam mencari ilmu sejatinya tidak ada istilah liburan musim panas,
liburan musim semi, maupun libur lainnya. Menuntut ilmu adalah tujuan harian
yang menemani setiap hari-hari seorang muslim.
Faedah keempat
Kemudahan langkah seorang dalam menuntut ilmu dan
kelapangan dadanya dalam menempuhnya serta penerimaan jiwanya dalam mempelajari
dan memahami agama Allah merupakan tanda-tanda kebaikan baginya, karena Nabi shallallahu
‘alaihi wa sallam bersabda,
مَنْ
يُرِدِ اللهُ بِهِ خَيْرًا يُفَقِّهْهُ فِي الدِّينِ
“Barangsiapa yang Allah kehendaki kebaikan
baginya maka Allah akan memberikan kefaqihan (pemahaman) agama baginya.“ (Muttafaqun
‘alaihi)
Jika seorang hamba merasakan lapang jiwanya untuk
mencintai ilmu maka itu adalah tanda kebaikan. Jika dia senang ketika mendengar
ada majelis ilmu maka itu adalah tanda kebaikan. Jika disebutkan kepadanya ada
majelis ilmu dia bergembira serta bersegera menghampirinya maka itu adalah
tanda kebaikan. Jika diinformasikan kepadanya kitab bermanfaat yang ditulis
oleh para ulama dan dia segera mencarinya maka itu adalah tanda kebaikan. Jika
seseorang lapang jiwanya untuk mencintai ilmu dan bersemangat untuk
mempelajarinya maka itu semua merupakan tanda-tanda kebaikan baginya. Nabi shallallahu
‘alaihi wa sallam bersabda:
مَنْ
يُرِدِ اللهُ بِهِ خَيْرًا يُفَقِّهْهُ فِي الدِّينِ
“Barangsiapa yang Allah kehendaki kebaikan
baginya maka Allah akan memberikan kefaqihan (pemahaman) agama baginya.“ (Muttafaqun
‘alaihi)
Faedah Kelima
Berlaku pula kebalikan dari hal-hal di atas.
Berpalingnya seorang hmaba –wal’iyadzu billah– dari ilmu dan kebenciannya
terhadap majelis ilmu serta sempit dadanya dari majelis ilmu maka ini ini
bukanlah merupakan tanda kebaikan dan tanda taufik dari Allah kepada dirinya.
Jika seorang hamba melihat dirinya asing dari majelis ilmu dan berusaha
meninggalkannya serta tidak memiliki keinginan untuk mendapatkannya maka ini
bukanlah tanda-tanda taufik dan bukan pula ciri Allah menghendaki kebaikan bagi
hamba tersebut, karena Nabi shalllallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
مَنْ
يُرِدِ اللهُ بِهِ خَيْرًا يُفَقِّهْهُ فِي الدِّينِ
“Barangsiapa yang Allah kehendaki kebaikan
baginya maka Allah akan memberikan kefaqihan (pemahaman) agama baginya.“ (Muttafaqun
‘alaihi)
Faedah Keenam
Sabda Nabi (يُفَقِّهْهُ
فِي الدِّينِ) mencakup kefaqihan terhadap seluruh ilmu
syar’i yang meliputi pokok-pokok agama dan cabang-cabangnya. Yang banyak
dipahami manusia bahwa seorang fakih hanyalah yang paham perkara hukum saja
seperti hukum shalat, puasa, dan haji, sehingga jika dikatakan kitab fiqih maka
yang dimaksudkan adalah kitab tentang hukum-hukum. Adapun yang dimaksud dalam
hadits ini maka faqih yang dimaksud mencakup seluruh perkara agama. Yang
termasuk dalam ucapan (يُفَقِّهْهُ فِي الدِّينِ) pertama kali adalah perkara akidah, karena akidah adalah
bagian dari pemahamam fikih yang paling agung dalam agama ini. Aqidah adalah
perkara agama yang paling agung dan mulia sehingga disebut juga sebagai fiqih
akbar. Kesimpulannya dalam sabda nabi (يُفَقِّهْهُ
فِي الدِّينِ) tidak hanya khusus dalam hukum-hukum
fiqih ibadah saja, bahkan yang tercakup di dalamnya pertama kali adalah masalah
akidah.
Hal ini sebagaimana dijelaskan juga dalam hadits
Jibril yang terkenal, di mana Nabi pernah ditanya tentang makna iman, islam,
dan ihsan. Nabi kemudian menjelaskan secara lengkap makna iman, islam, dan
ihsan. Kemudian di akhir hadits Nabi bersabda:
)فَإِنَّهُ جِبْرِيلُ أَتَاكُمْ يُعَلِّمُكُمْ
دِينَكُمْ(
“Itu adalah Jibril yang datang kepada kalian
untuk mengajarkan agama kalian.“
Sabda Nabi di akhir hadits ini menjelaskan bahwa
yang dimaksud agama Islam adalah mencakup bagian islam dengan berbagai amalnya,
bagian iman dengan berbagai keyakinannya, dan juga ihsan dengan kebagusan dalam
ibadah dan ketaatannya keapada Allah dengan melakukan hal-hal yang diridhoi-Nya
berupa amal shalih dan ucapan yang baik.
Faedah Ketujuh
Pentingnya memiliki kefaqihan (pemahaman) dalam
agama. Ilmu tidak hanya sekadar menghafal ayat atau hadits, akan tetapi butuh
pemahaman yang benar terhadapnya. Oleh karena itu Allah Ta’ala berfirman:
أَفَلَا
يَتَدَبَّرُونَ الْقُرْآنَ أَمْ عَلَى قُلُوبٍ أَقْفَالُهَا
“Maka apakah mereka tidak mentadabburi Al
Qur’an ataukah hati mereka terkunci?” (Muhammad : 24)
أَفَلَمْ
يَدَّبَّرُوا الْقَوْلَ أَمْ جَاءهُم مَّا لَمْ يَأْتِ آبَاءهُمُ الْأَوَّلِينَ
“Maka apakah mereka tidak mentadabburi
perkataan (Kami), atau apakah telah datang kepada mereka apa yang tidak pernah
datang kepada nenek moyang mereka dahulu?“ (Al Mukminun: 68)
كِتَابٌ
أَنزَلْنَاهُ إِلَيْكَ مُبَارَكٌ لِّيَدَّبَّرُوا آيَاتِهِ وَلِيَتَذَكَّرَ
أُوْلُوا الْأَلْبَابِ
“Ini adalah sebuah kitab yang Kami turunkan
kepadamu penuh dengan berkah supaya mereka mentadabburi ayat-ayatnya dan supaya
mendapat pelajaran orang-orang yang mempunyai fikiran.“ (Shad: 29)
Kepahaman terhadap agama adalah pujian bagi hamba
apabila dia diberi taufik oleh Allah untuk mendapatkannya. Manusia berbeda-beda
dalam memiliki pemahaman terhadap agama Allah. Oleh karena itu bisa jadi seseorang
memiliki ilmu akan tetapi kurang pemahamannnya. Nabi shallallahu ‘alaihi
wa sallam bersabda:
رُبَّ
حَامِلِ فِقْهٍ لَيْسَ بِفَقِيهٍ، وَرُبَّ حَامِلِ فِقْهٍ إِلَى مَنْ هُوَ
أَفْقَهُ مِنْه
“Betapa banyak orang yang memiliki ilmu agama
namun tidak memahami apa yang dimilikinya. Dan betapa banyak orang yang
memiliki ilmu agama menyampaikan kepada orang yang lebih paham darinya“.
Terkadang seorang penuntut ilmu bisa menyebutkan
kepada seorang alim sebuah hadits yang tidak diketahui oleh sang alim, namun
sang alim bisa mengambil faidah-faidah yang tidak ada di benak orang yang telah
menghafal hadits tersebut. Maka hadits ini menunjukkan pentingnya memiliki
pemahaman makna yang benar terhadap hadits-hadits Rasul. Bahkan kefaqihan
terhadap ilmu seharusnya membuahkan amal dan taat, bukan pula hanya sekedar
mengetahui dan memahami namun tanpa amal.
Hendaknya seseorang memahami agama dengan
pemahaman yang benar sehingga membuahkan amal. Bahkan semestinya juga berbuah
dakwah dan memberikan peringatan kepada orang lain, sebagaimana terdapat dalam
firman-Nya:
وَمَا
كَانَ الْمُؤْمِنُونَ لِيَنفِرُواْ كَآفَّةً فَلَوْلاَ نَفَرَ مِن كُلِّ فِرْقَةٍ
مِّنْهُمْ طَآئِفَةٌ لِّيَتَفَقَّهُواْ فِي الدِّينِ وَلِيُنذِرُواْ قَوْمَهُمْ
إِذَا رَجَعُواْ إِلَيْهِمْ لَعَلَّهُمْ يَحْذَرُونَ
“Tidak sepatutnya bagi seluruh kaum mukminin
pergi semuanya (ke medan perang). Mengapa tidak pergi dari tiap-tiap golongan
di antara mereka beberapa orang untuk memperdalam pengetahuan mereka tentang
agama dan untuk memberi peringatan kepada kaumnya apabila mereka telah kembali
kepadanya, supaya mereka itu dapat menjaga dirinya.“ (At Taubah: 22)
Maka dalam hal ini ada kaitan antara pemahaman dan
pemberian peringatan atau berdakwah. Berdakwah adalah bagian dari tingkatan
beramal seseorang, di mana sebelumnya dia telah memahami terlebih dahulu. Dia
belajar sehingga memahami, kemudian mengamalkan, dan kemudian mendakwahkan. Ini
adalah tahapan dalam ilmu dan cara dalam mendekatkan diri kepada Allah.
Penutup
Kesimpulannya hadits ini adalah hadits yang agung
tentang permasalahan ilmu, khususnya bab tentang pemahaman terhadap agama
Allah. Di antara kandungan yang terpenting dari hadits ini adalah bahwa ilmu
merupakan sarana untuk mecapai tujuan mendekatkan diri kepada Allah, karena
seseorang tidak akan bisa mendapat kebaikan kecuali dengan memahami ilmu dengan
makna yang sudah dijelaskan di atas. Seseorang mempelajari ilmu untuk memahami
agama Allah dan berbagai syariat-Nya, kemudian mengamalkan apa yang sudah
diilmui, dan kemudian berdakwah kepada yang lain denga ilmu yang sudah dia
dapatkan.
Segala taufik di tangan Allah semata, tidak ada
sekutu bagi-Nya. Kita memohon kepada Allah agar memberi taufik kepada kita
semua di atas jalan kebaikan, dan meganugerahi kita rezeki berupa ilmu yang
bermanfaat dan amal shalih, serta senantiasa mengumpulkan kita di atas jalan
kebenaran dan petunjuk.
Sumber: https://muslim.or.id/58413-faidah-hadits-tentang-keutamaan-ilmu.html
Tidak ada komentar:
Posting Komentar