Ada tujuh catatan berharga mengenai adab doa.
Catatan #01
Tidak Boleh Berkata, “Aku Sudah Berdoa Lalu
Tidak Terkabul”
Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallaahu
‘alaihi wa sallam pernah bersabda,
لاَ
يَزَالُ يُسْتَجَابُ لِلْعَبْدِ مَا لَمْ يَدْعُ بِإِثْمٍ أَوْ قَطِيعَةِ رَحِمٍ
مَا لَمْ يَسْتَعْجِلْ ». قِيلَ يَا رَسُولَ اللَّهِ مَا الاِسْتِعْجَالُ قَالَ:
يَقُولُ قَدْ دَعَوْتُ وَقَدْ دَعَوْتُ فَلَمْ أَرَ يَسْتَجِيبُ لِى
فَيَسْتَحْسِرُ عِنْدَ ذَلِكَ وَيَدَعُ الدُّعَاءَ
“Doa seorang hamba akan senantiasa dikabulkan,
selama dia berdo’a bukan untuk keburukan atau memutus tali silaturahim dan
selama dia tidak tergesa-gesa dalam berdo’a. Kemudian seseorang bertanya, ‘Ya
Rasulullah, apa yang dimaksud tergesa-gesa dalam berdoa?’
Kemudian Rasulullah menjawab, yaitu seseorang
yang berkata, ‘Sungguh aku telah berdo’a dan berdo’a, namun tak juga aku
melihat do’aku dikabulkan’, lalu dia merasa jenuh dan meninggalkan do’a
tersebut.” (HR. Muslim, no. 2735)
Yang dimaksud di sini adalah ia memutus doa.
Teladanilah malaikat, di mana dalam ayat disebutkan,
وَلَهُ
مَنْ فِي السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ وَمَنْ عِنْدَهُ لَا يَسْتَكْبِرُونَ عَنْ
عِبَادَتِهِ وَلَا يَسْتَحْسِرُونَ
“Dan kepunyaan-Nya lah segala yang di langit
dan di bumi. Dan malaikat-malaikat yang di sisi-Nya, mereka tiada mempunyai
rasa angkuh untuk menyembah-Nya dan tiada (pula) merasa letih.” (QS.
Al-Anbiya’: 19). Maksudnya adalah malaikat tidak berputus asa dari berdoa. Yang
kita bisa ambil contoh adalah kita juga hendaknya terus menerus dalam berdoa
dan terus menaruh harapan terkabulnya. (Syarh Shahih Muslim, 17:47)
Catatan #02
Menghadirkan Hati Ketika Memanjatkan Doa
Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu
‘alaihi wa sallam bersabda,
ادْعُوا
اللَّهَ وَأَنْتُمْ مُوقِنُونَ بِالإِجَابَةِ وَاعْلَمُوا أَنَّ اللَّهَ لاَ
يَسْتَجِيبُ دُعَاءً مِنْ قَلْبٍ غَافِلٍ لاَهٍ
“Berdoalah kepada Allah dalam keadaan yakin
akan dikabulkan, dan ketahuilah bahwa Allah tidak mengabulkan doa dari hati
yang lalai.” (HR. Tirmidzi, no. 3479. Syaikh Al-Albani mengatakan bahwa
hadits ini hasan.)
Catatan #03
Menyanjung Allah Lalu Berdoa
Dari Sa’ad bin Abi Waqqash radhiyallahu ‘anhu, ia
berkata, ada seorang Arab Badui menghadap Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa
sallam antas berkata, “Ajarkanlah kepadaku suatu kalimat yang aku bisa
mengucapkannya.” Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Ucapkanlah: LAA
ILAHA ILLALLAH WAHDAHU LAA SYARIKA LAH, ALLAHU AKBAR KABIIRO, WALHAMDULILLAHI
KATSIROO, WA SUBHANALLAHI ROBBIL ‘ALAMIN, WA LAA HAWLA WA LAA QUWWATA ILLA
BILLAHIL ‘AZIZIL HAKIM.
(Artinya: Tidak ada sesembahan yang berhak
disembah selain Allah Yang Maha Esa dan tidak ada sekutu bagi-Nya. Allah Maha
Besar, segala puji bagi Allah yang banyak, Maha Suci Allah Rabb semesta alam,
serta tidak ada daya dan upaya kecuali bersama Allah Yang Maha Perkasa lagi
Maha Bijaksana).”
Orang Arab Badui itu berkata, “Itu semua untuk
Rabbku, lalu manakah untukku?” Beliau menjawab, “Ucapkanlah: ALLAHUMMAGHFIR LII
WARHAMNII WAHDINII WARZUQNII (Artinya: Ya Allah, ampunilah aku, rahmatilah aku,
berilah aku hidayah).” (HR. Muslim, no. 2696)
Syaikh Salim bin ‘Ied Al-Hilali hafizahullah menyatakan
bahwa disunnahkan untuk berdzikir dan menyanjung Allah sebelum doa. Karena
Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam mengajarkan Arab Badui tersebut sanjungan
kepada Allah dahulu sebelum doa. Ini yang disebut at-takhliyyah qabla
at-tahliyyah, membersihkan dahulu sebelum menghiasi dan mengisi. (Lihat Bahjah
An-Nazhirin Syarh Riyadh Ash-Shalihin. 2:448.)
Catatan #04
Bershalawat kepada Nabi Saat Berdoa
Ibnul Qayyim menyatakan bahwa ada tiga tingkatan
dalam bershalawat saat doa:
a- Bershalawat sebelum memanjatkan doa setelah
memuji Allah.
b- Bershalawat di awal, pertengahan dan akhir doa.
c- Bershalawat di awal dan di akhir, lalu
menjadikan hajat yang diminta di pertengahan doa.
Mengenai perintah bershalawat saat akan
memanjatkan doa disebutkan dalam hadits Fudholah bin ‘Ubaid, ia berkata, “Nabi shallallahu
‘alaihi wa sallam pernah mendengar seseorang memanjatkan doa dalam shalatnya,
lalu ia tidak memanjatkan shalawat kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.
Beliau pun berkata, “Orang ini terlalu tergesa-gesa dalam doanya.”
Kemudian beliau memanggilnya lalu menegurnya atau
mengatakan kepada lainnya, “Jika salah seorang di antara kalian berdoa, maka
mulailah dengan memuji Allah, menyanjung-Nya, lalu bershalawat kepada Nabi shallallahu
‘alaihi wa sallam, lalu mintalah doa yang diinginkan.” (HR. Tirmidzi, no. 3477
dan Abu Daud, no. 1481. Abu Isa At-Tirmidzi mengatakan bahwa hadits ini hasan
shahih. Al-Hafizh Abu Thahir menilai sanad hadits tersebut hasan.)
Ibnul Qayyim menyatakan pula bahwa membaca
shalawat pada saat berdoa, kedudukannya seperti membaca Al-Fatihah dalam
shalat. Jadi pembuka doa adalah shalawat kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa
sallam. Untuk shalat, pembukanya adalah dengan bersuci.
Ahmad bin Abu Al Hawra’ pernah mendengar Abu
Sulaiman Ad-Daraniy berkata, “Siapa yang ingin memanjatkan hajatnya kepada
Allah, maka mulailah dengan bershalawat kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa
sallam, lalu mintalah hajatnya. Kemudian tutuplah doa tersebut dengan shalawat
kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam karena shalawat kepada beliau akan
membuat doa tersebut maqbulah (mudah diterima).” (Jalaa’ Al-Afham, hlm.
335-336).
Dari Zirr, dari ‘Abdullah, ia berkata, “Aku pernah
shalat dan kala itu Abu Bakr dan ‘Umar bersama dengan Nabi shallallahu ‘alaihi
wa sallam. Ketika aku duduk, aku memulai doaku dengan memuji Allah, lalu
bershalawat kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, kemudian aku berdoa
untuk diriku sendiri. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pun bersabda, “Mintalah,
engkau akan diberi. Mintalah, engkau akan diberi.” (HR. Tirmidzi, no. 593.
Al-Hafizh Abu Thahir mengatakan bahwa hadits ini hasan.)
‘Umar radhiyallahu ‘anhu pernah mengatakan,
إِنَّ
الدُّعَاءَ مَوْقُوفٌ بَيْنَ السَّمَاءِ وَالأَرْضِ لاَ يَصْعَدُ مِنْهُ شَىْءٌ
حَتَّى تُصَلِّىَ عَلَى نَبِيِّكَ -صلى الله عليه وسلم-
“Sesungguhnya doa itu diam antara langit dan
bumi, tidak naik ke atas hingga engkau bershalawat kepada Nabimu shallallahu
‘alaihi wa sallam.” (HR. Tirmidzi, no. 486. Syaikh Al-Albani menyatakan
hadits ini hasan.)
Catatan #05
Cara Mengangkat Tangan Ketika Berdoa
Dalam hadits dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu,
“Kemudian Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menceritakan tentang seroang
laki-laki yang telah lama berjalan karena jauhnya jarak yang ditempuhnya.
Sehingga rambutnya kusut, masai dan berdebu. Orang itu mengangkat tangannya ke
langit seraya berdoa, ‘Wahai Rabbku, wahai Rabbku.’ Padahal, makanannya dari
barang yang haram, minumannya dari yang haram, pakaiannya dari yang haram dan
diberi makan dengan makanan yang haram, maka bagaimanakah Allah akan
memperkenankan doanya?” (HR. Muslim, no. 1015)
Ada dua cara mengangkat tangan ketika berdoa secara
umum yang disebutkan oleh Ibnu Rajab Al-Hambali:
1- Mengangkat tangan dengan menjadikan bagian
punggung telapak tangan diarahkan ke arah kiblat, sambil yang berdoa menghadap
kiblat, sedangkan bagian dalam telapak tangannya diarahkan ke arah wajah. Riwayat
cara ini adalah dari contoh doa istisqa yang dipraktikkan oleh Nabi shallallahu
‘alaihi wa sallam.
2- Mengangkat kedua tangan dengan menjadikan
bagian dalam telapak tangan dihadapkan ke langit, lantas punggung telapak
tangan dihadapkan ke bumi. Ada riwayat seperti dari Ibnu ‘Umar, Abu Hurairah,
dan Ibnu Sirin. Lihat Jami’ Al-‘Ulum wa Al-Hikam, 1:271-272.
Catatan #06
Bentuk Tawassul dalam Doa
Tawassul dengan menyeru nama dan sifat Allah
seperti: Yaa Rabbi, Yaa Hayyu Yaa Qayyum.
Tawassul dengan menyebut amalan shalih yang
terbaik.
Tawassul dengan perantaraan doa orang shalih yang
masih hidup.
Catatan #07
Adab-Adab Berdoa Lainnya
·
Percaya
kepada janji Allah bahwa doa itu terkabul.
·
Memilih waktu
terbaik untuk berdoa.
·
Benar-benar
merasa membutuhkan Allah.
·
Menghadap
kiblat.
·
Berdoa dalam
keadaan suci.
·
Mengangkat
tangan saat berdoa.
·
Dahului
dengan taubat dan istigfar, seperti doa Nabi Yunus ‘alaihis salam yang mengakui
kezalimannya terlebih dahulu: LAA ILAAHA ILLAA ANTA SUBHAANAKA INNII KUNTU
MINAZH ZHAALIMIIN (Artinya: Tidak ada sesembahan yang berhak disembah kecuali
Engkau, Mahasuci Engkau, sesungguhnya aku termasuk orang yang berbuat aniaya).
·
Meminta
dengan penuh pengharapan yang besar dan rasa takut.
·
Bertawassul
dengan nama dan sifat Allah.
·
Mendahului
doa dengan sedekah.
·
Memilih doa
yang telah disebutkan dalam Al-Qur’an dan diajarkan oleh Nabi shallallahu
‘alaihi wa sallam.
Semoga tujuh catatan mengenai adab-adab doa ini
menjadi ilmu yang berharga dan bermanfaat serta bisa diamalkan.
Sumber : https://rumaysho.com/16893-7-catatan-mengenai-adab-doa.html
Tidak ada komentar:
Posting Komentar