Minggu, 17 Mei 2026

BELAJAR TAUHID PADA KELUARGA NABI IBRAHIM

 


Oleh : Muhammad Haitami

 

 

اَلْحَمْدُ ِللهِ الَّذِى أَنْزَلَ الْكِتَابَ تِبْيَانًا لِكُلِّ شَيْءٍ وَهُدًى وَنُوْرًا وَبُشْرَى لِلْمُسْلِمِيْنَ. أَشْهَدُ أَنْ لاَّ إِلَٰهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ، أَللّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَجْمَعِيْنَ.

أَمَّا بَعْدُ: فَيَا عِبَادَ اللهِ، أُوْصِيْكُمْ وَإِيَّايَ بِتَقْوَى اللهِ فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُوْنَ. قَالَ اللهُ تَعَالَى فِى كِتَابِهِ الْكَرِيْمِ:

إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ التَّوَّابِينَ وَيُحِبُّ الْمُتَطَهِّرِينَ

اللهُ أَكْبَرُ، اللهُ أَكْبَرُ، لَا إِلَٰهَ إِلَّا اللهُ وَاللهُ أَكْبَرُ، اللهُ أَكْبَرُ وَلِلَّهِ الْحَمْدُ. اللهُ أَكْبَرُ كَبِيْرًا، وَالْحَمْدُ لِلَّهِ كَثِيْرًا، وَسُبْحَانَ اللَّهِ بُكْرَةً وَأَصِيْلًا. لَا إِلَٰهَ إِلَّا اللهُ وَاللهُ أَكْبَرُ، اللهُ أَكْبَرُ وَلِلَّهِ الْحَمْدُ

 

Ma’asyiral Muslimin jamaah shalat Idul Adha yang dirahmati Allah,

Pertama-tama, marilah kita panjatkan puji syukur ke hadirat Allah swt, Tuhan semesta alam, atas segala limpahan rahmat, hidayah, dan kesempatan yang telah diberikan kepada kita semua. Hari ini, kita berkumpul dalam suasana penuh berkah dan keagungan, merayakan Idul Adha, hari raya besar umat Islam yang sarat makna spiritual dan sosial.

 

Shalawat serta salam semoga tercurah kepada Nabi Muhammad, suri teladan dalam seluruh aspek kehidupan, baik dalam ibadah, akhlak, maupun kepedulian sosial terhadap umatnya.

 

اَللهُ أَكْبَرُ، اللهُ أَكْبَرُ، وَلِلَّهِ الْحَمْدُ

 

Jamaah Idul Adha yang dimuliakan Allah,

Idul Adha tidak bisa dilepaskan dari kisah agung Nabi Ibrahim 'alaihissalam dan putranya, Ismail 'alaihissalam. Sebuah kisah tentang ujian iman dan ketundukan total kepada Allah. Saat Nabi Ibrahim diperintahkan menyembelih putranya yang sangat dicintainya, ia tidak menawar. Dan Ismail pun tidak menolak. Semua tunduk dan patuh kepada perintah Allah.

 

Kisah Nabi Ibrahim dan putranya Ismail adalah pelajaran tauhid yang luar biasa. Tauhid adalah meng-Esa-kan Allah, tidak mempersekutukanNya dengan yang lain. Jika Allah memerintahkan maka langsung dikerjakan. Sebaliknya jika Allah melarang maka langsung ditinggalkan.

 

فَلَمَّا بَلَغَ مَعَهُ ٱلسَّعْىَ قَالَ يَٰبُنَىَّ إِنِّىٓ أَرَىٰ فِى ٱلْمَنَامِ أَنِّىٓ أَذْبَحُكَ فَٱنظُرْ مَاذَا تَرَىٰ ۚ قَالَ يَٰٓأَبَتِ ٱفْعَلْ مَا تُؤْمَرُ ۖ سَتَجِدُنِىٓ إِن شَآءَ ٱللَّهُ مِنَ ٱلصَّٰبِرِينَ

 

Maka tatkala anak itu sampai (pada umur sanggup) berusaha bersama-sama Ibrahim, Ibrahim berkata: "Hai anakku sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu. Maka fikirkanlah apa pendapatmu!" Ia menjawab: "Hai bapakku, kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu; insya Allah kamu akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar", Qs. Ash Shaffat (37): 102.

 

Perintah Allah kepada Nabi Ibrahim dan putranya Ismail sangatlah luar biasa, yaitu menyembelih anaknya dengan tangannya sendiri. Apakah Ibrahim menolak perintah itu, tidak! Apakah Ibrahim minta waktu untuk memikirkannya, juga tidak! Apakah Ismail keberatan dengan perintah itu, tidak! Apakah Ismail memilih melarikan diri agar tidak jadi disembelih, tidak juga!

 

Ismail dengan gagah mengatakan,

 

Hai bapakku, kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu

يَٰٓأَبَتِ ٱفْعَلْ مَا تُؤْمَرُ

insya Allah kamu akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar

سَتَجِدُنِىٓ إِن شَآءَ ٱللَّهُ مِنَ ٱلصَّٰبِرِينَ

 

Seperti itulah contoh tauhid yang benar. Saat diperintahkan Allah langsung dikerjakan, tidak pakai nanti, tidak minta syarat tertentu. Bandingkan dengan tauhid kebanyakan ummat Islam saat ini. Memang benar mereka beragama Islam, tertulis di KTP-nya. Namun tauhidnya masih jauh dari sempurna. Sebagai contoh, jika diperintahkan shalat lewat panggilan adzan, ada saja alasannya untuk menunda-nunda melaksanakannya.

 

اَللهُ أَكْبَرُ، اللهُ أَكْبَرُ، وَلِلَّهِ الْحَمْدُ

 

Jamaah Idul Adha yang dimuliakan Allah,

Contoh lain kuatnya tauhid adalah Siti Hajar saat hendak ditinggalkan Ibrahim ke Palestina. Dikisahkan dalam sebuah hadits shahih. Rasulullah bersabda:

 

ثُمَّ قَفَّى إِبْرَاهِيمُ مُنْطَلِقًا، فَتَبِعَتْهُ أُمُّ إِسْمَاعِيلَ فَقَالَتْ: يَا إِبْرَاهِيمُ، أَيْنَ تَذْهَبُ وَتَتْرُكُنَا بِهَذَا الوَادِي، الَّذِي لَيْسَ فِيهِ إِنْسٌ وَلاَ شَيْءٌ؟ فَقَالَتْ لَهُ ذَلِكَ مِرَارًا، وَجَعَلَ لاَ يَلْتَفِتُ إِلَيْهَا، فَقَالَتْ لَهُ: آللَّهُ الَّذِي أَمَرَكَ بِهَذَا؟ قَالَ: نَعَمْ، قَالَتْ: إِذَنْ لاَ يُضَيِّعُنَا، ثُمَّ رَجَعَتْ

… kemudian Ibrahim beranjak pergi, lalu ibunya Ismail (Hajar) mengikutinya dan berkata: “Wahai Ibrahim, kamu mau pergi kemana? kamu tinggalkan kami di lembah ini yang tidak ada manusia dan suatu apapun”. Dia (Hajar) berkata seperti itu berulang kali dan Ibrahim tidak menoleh kepadanya, lalu ia bertanya kepada Ibrahim: “Apakah Allah memerintahkan hal ini kepadamu?” Ibrahim menjawab: ” iya “, lalu ia berkata: “Jika demikian, maka Allah tidak akan menyia-nyiakan kami”, kemudian ia kembali …” (HR. Al-Bukhari no. 3364 hadits Ibnu ‘Abbas).

 

Dalam hadits tersebut dijelaskan bahwa Hajar sempat menanyakan beberapa kali kepada Ibrahim tentang kenapa ia beserta anaknya ditinggalkan disana. Dan Ibrahim pun juga tidak menjawab pertanyaan tersebut lantara Ibrahim harus menaati perintah RabbNya untuk tidak bercakap-cakap. Setelah beberapa kali tidak mendapat jawaban, maka Hajar kembali menegaskan,

 

آللَّهُ الَّذِي أَمَرَكَ بِهَذَا؟

Allah-kah yang menyuruhmu untuk melakukan hal ini?

 

Ibrahim akhirnya menganggukan kepala sebagai isyarat jawaban “iya”. Disinilah kita melihat, betapa tingginya keimanan Siti Hajar. Melihat isyarat jawaban Ibrahim, maka Hajar pun menjawab dengan:

 

إِذَنْ لاَ يُضَيِّعُنَا

Kalau begitu, Allah tidak akan menelantarkan kami.

 

Puncak keistimewaan yang akan diraih oleh orang-orang yang bertauhid adalah bahwa Allah Ta’ala akan memasukkan mereka ke dalam surga tanpa hisab dan tanpa adzab. Keistimewaan ini hanya Allah Ta’ala janjikan bagi mereka yang benar-benar membersihkan, memurnikan, dan menyempurnakan tauhidnya. Untuk mewujudkan hal ini, tentu bukan hal yang mudah. Lalu, bagaimana cara kita meraihnya?

 

اَللهُ أَكْبَرُ، اللهُ أَكْبَرُ، وَلِلَّهِ الْحَمْدُ

 

Jamaah Idul Adha yang dimuliakan Allah,

Untuk membersihkan dan memurnikan tauhid, harus terpenuhi tiga hal:

 

Pertama, memiliki ilmu yang sempurna tentang tauhid. Karena tidak mungkin seseorang membersihkan sesuatu tanpa terlebih dahulu mengetahui dan memahami sesuatu tersebut. Allah Ta’ala berfirman,

 

فَاعْلَمْ أَنَّهُ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ

Maka ketahuilah, bahwa sesungguhnya tidak ada sesembahan yang benar melainkan Allah saja. QS. Muhammad [47]: 19.

 

Dalam ayat ini, Allah Ta’ala memerintahkan untuk meng-ilmui terlebih dahulu, sebelum mengucapkan kalimat tauhid.

 

Kedua, meyakini kebenaran tauhid yang telah diilmuinya. Apabila seseorang hanya mengilmui (mengetahui) saja, akan tetapi tidak meyakininya dan bahkan mengingkarinya, maka dia tidaklah membersihkan tauhidnya. Allah Ta’ala berfirman tentang kesombongan orang-orang kafir yang tidak meyakini keesaan Allah sebagai satu-satunya sesembahan padahal mereka telah memahami makna laa ilaaha illallah,

 

أَجَعَلَ الْآلِهَةَ إِلَهًا وَاحِدًا إِنَّ هَذَا لَشَيْءٌ عُجَابٌ

Mengapa ia (Muhammad) menjadikan sesembahan-sesembahan itu sebagai sesembahan yang satu saja? Sungguh ini adalah suatu hal yang sangat mengherankan. QS. Shaad [38]: 5.

 

Ketiga, mengamalkan tauhid tersebut dengan penuh ketundukan. Jika kita telah mengilmui dan meyakini, akan tetapi kita tidak mau mengamalkannya dengan penuh ketundukan, maka kita belum bersih tauhidnya. Allah Ta’ala berfirman,

 

إِنَّهُمْ كَانُوا إِذَا قِيلَ لَهُمْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ يَسْتَكْبِرُونَ

Sesungguhnya mereka dahulu apabila dikatakan kepada mereka, ’laa ilaaha illallah’, mereka menyombongkan diri.” QS. Ash-Shaffat [37]: 35.

 

Apabila ketiga hal ini telah terpenuhi dan seseorang benar-benar membersihkan serta memurnikan tauhidnya, maka jaminan surga tersedia menjadi miliknya tanpa hisab dan tanpa adzab. Dalam hal ini, kita tidak perlu mengatakan ”Insyaa Allah” karena hal tersebut adalah hukum yang telah ditetapkan oleh syari’at.

 

Untuk menguatkan keimanan kita agar menjadi iman aktif marilah kita memanjatkan doa kehadirat Allah Swt. Dan kita yakin doa ini akan diamini para malaikat juga akan dikabulkan Allah Swt.

 

اللهُ أَكْبَرُ، اللهُ أَكْبَرُ، وَلِلَّهِ الْحَمْدُ

اَلْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ. حَمْدًا يُوَافِيْ نِعَمَهُ وَيُكَافِئُ مَزِيْدَهُ - يَا رَبَّنَا لَكَ الْحَمْدُ كَمَا يَنْبَغِيْ لِجَلاَلِ وَجْهِكَ الْكَرِيْمِ وَعَظِيْمِ سُلْطَانِكَ - اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ. وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ.

اَللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ، اْلأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَاْلأَمْوَاتِ. رَبَّنَا اغْفِرْ لَنَا وَلإِخْوَانِنَا الَّذِيْنَ سَبَقُوْنَا بِاْلإِيْمَانِ وَلاَ تَجْعَلْ فِيْ قُلُوْبِنَا غِلاًّ لِّلَّذِيْنَ ءَامَنُوْا رَبَّنَا إِنَّكَ رَءُوْفٌ رَّحِيْمٌ. اَللَّهُمَّ افْتَحْ بَيْنَنَا وَبَيْنَ قَوْمِنَّا بِالْحَقِّ وَاَنْتَ خَيْرُ الْفَاتِحِيْنَ. اَللَّهُمَّ إِنَّا نَسْأَلُكَ عِلْمًا نَافِعًا وَرِزْقًا طَيِّبًا وَعَمَلاً مُتَقَبَّلاً. رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ. وَصَلَّى اللهُ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يِوْمِ الدِّيْنِ.

 

 

Sumber: https://lampung.nu.or.id/khutbah/khutbah-idul-adha-kurban-sebagai-aspek-spiritual-dan-kepedulian-sosial-32UF5

 

https://suaramuhammadiyah.id/read/khutbah-idul-adha-1446-h-memetik-pilar-islam-berkemajuan-dari-kisah-nabi-ibrahim

 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

NARKOBA DAN PERAN ORANG TUA

Oleh: Lulus Bektiyono , Kader Muhammadiyah PCM Bukit Duri   اَلْـحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِيْ أَرْسَلَ رَسُوْلَهُ بِالْهُدٰى وَدِيْنِ الْحَقِ...