Oleh : Muhammad
Haitami
اَلْحَمْدُ ِللهِ الَّذِى أَنْزَلَ
الْكِتَابَ تِبْيَانًا لِكُلِّ شَيْءٍ وَهُدًى وَنُوْرًا وَبُشْرَى
لِلْمُسْلِمِيْنَ. أَشْهَدُ أَنْ لاَّ إِلَٰهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ
لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ، أَللّٰهُمَّ صَلِّ
وَسَلِّمْ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَجْمَعِيْنَ.
أَمَّا بَعْدُ: فَيَا عِبَادَ اللهِ، أُوْصِيْكُمْ
وَإِيَّايَ بِتَقْوَى اللهِ فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُوْنَ. قَالَ اللهُ تَعَالَى فِى كِتَابِهِ
الْكَرِيْمِ:
إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ التَّوَّابِينَ
وَيُحِبُّ الْمُتَطَهِّرِينَ
اللهُ أَكْبَرُ، اللهُ أَكْبَرُ، لَا
إِلَٰهَ إِلَّا اللهُ وَاللهُ أَكْبَرُ، اللهُ أَكْبَرُ وَلِلَّهِ الْحَمْدُ. اللهُ أَكْبَرُ
كَبِيْرًا، وَالْحَمْدُ لِلَّهِ كَثِيْرًا، وَسُبْحَانَ اللَّهِ بُكْرَةً
وَأَصِيْلًا. لَا إِلَٰهَ إِلَّا اللهُ وَاللهُ أَكْبَرُ، اللهُ أَكْبَرُ وَلِلَّهِ
الْحَمْدُ
Ma’asyiral Muslimin jamaah shalat Idul Adha yang
dirahmati Allah,
Pertama-tama, marilah kita panjatkan puji syukur
ke hadirat Allah swt, Tuhan semesta alam, atas segala limpahan rahmat, hidayah,
dan kesempatan yang telah diberikan kepada kita semua. Hari ini, kita berkumpul
dalam suasana penuh berkah dan keagungan, merayakan Idul Adha, hari raya besar
umat Islam yang sarat makna spiritual dan sosial.
Shalawat serta salam semoga tercurah kepada Nabi
Muhammadﷺ, suri
teladan dalam seluruh aspek kehidupan, baik dalam ibadah, akhlak, maupun kepedulian sosial
terhadap umatnya.
اَللهُ
أَكْبَرُ، اللهُ أَكْبَرُ، وَلِلَّهِ الْحَمْدُ
Jamaah Idul Adha yang dimuliakan Allah,
Idul Adha tidak bisa dilepaskan dari kisah agung
Nabi Ibrahim 'alaihissalam dan putranya, Ismail 'alaihissalam. Sebuah kisah
tentang ujian iman dan ketundukan total kepada Allah. Saat Nabi Ibrahim
diperintahkan menyembelih putranya yang sangat dicintainya, ia tidak menawar.
Dan Ismail pun tidak menolak. Semua tunduk dan patuh kepada perintah Allah.
Kisah Nabi Ibrahim dan
putranya Ismail adalah pelajaran tauhid yang luar biasa. Tauhid adalah
meng-Esa-kan Allah, tidak mempersekutukanNya dengan yang lain. Jika Allah
memerintahkan maka langsung dikerjakan. Sebaliknya jika Allah melarang maka
langsung ditinggalkan.
فَلَمَّا بَلَغَ مَعَهُ ٱلسَّعْىَ قَالَ
يَٰبُنَىَّ إِنِّىٓ أَرَىٰ فِى ٱلْمَنَامِ أَنِّىٓ أَذْبَحُكَ فَٱنظُرْ مَاذَا
تَرَىٰ ۚ قَالَ يَٰٓأَبَتِ ٱفْعَلْ مَا تُؤْمَرُ ۖ سَتَجِدُنِىٓ إِن شَآءَ ٱللَّهُ
مِنَ ٱلصَّٰبِرِينَ
“Maka tatkala anak itu sampai (pada umur
sanggup) berusaha bersama-sama Ibrahim, Ibrahim berkata: "Hai anakku
sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu. Maka fikirkanlah
apa pendapatmu!" Ia menjawab: "Hai bapakku, kerjakanlah apa yang
diperintahkan kepadamu; insya Allah kamu akan mendapatiku termasuk orang-orang
yang sabar", Qs. Ash Shaffat (37): 102.
Perintah Allah kepada Nabi
Ibrahim dan putranya Ismail sangatlah luar biasa, yaitu menyembelih anaknya
dengan tangannya sendiri. Apakah Ibrahim menolak perintah itu, tidak! Apakah
Ibrahim minta waktu untuk memikirkannya, juga tidak! Apakah Ismail keberatan
dengan perintah itu, tidak! Apakah Ismail memilih melarikan diri agar tidak
jadi disembelih, tidak juga!
Ismail dengan gagah
mengatakan,
|
Hai bapakku, kerjakanlah apa yang
diperintahkan kepadamu |
يَٰٓأَبَتِ ٱفْعَلْ مَا تُؤْمَرُ |
|
insya Allah kamu akan mendapatiku termasuk
orang-orang yang sabar |
سَتَجِدُنِىٓ إِن شَآءَ ٱللَّهُ مِنَ ٱلصَّٰبِرِينَ |
Seperti itulah contoh
tauhid yang benar. Saat diperintahkan Allah langsung dikerjakan, tidak pakai
nanti, tidak minta syarat tertentu. Bandingkan dengan tauhid kebanyakan ummat
Islam saat ini. Memang benar mereka beragama Islam, tertulis di KTP-nya. Namun
tauhidnya masih jauh dari sempurna. Sebagai contoh, jika diperintahkan shalat
lewat panggilan adzan, ada saja alasannya untuk menunda-nunda melaksanakannya.
اَللهُ
أَكْبَرُ، اللهُ أَكْبَرُ، وَلِلَّهِ الْحَمْدُ
Jamaah Idul Adha yang dimuliakan Allah,
Contoh lain kuatnya tauhid
adalah Siti Hajar saat hendak ditinggalkan Ibrahim ke Palestina. Dikisahkan dalam sebuah hadits shahih. Rasulullahﷺ
bersabda:
ثُمَّ قَفَّى إِبْرَاهِيمُ مُنْطَلِقًا،
فَتَبِعَتْهُ أُمُّ إِسْمَاعِيلَ فَقَالَتْ: يَا إِبْرَاهِيمُ، أَيْنَ تَذْهَبُ
وَتَتْرُكُنَا بِهَذَا الوَادِي، الَّذِي لَيْسَ فِيهِ إِنْسٌ وَلاَ شَيْءٌ؟
فَقَالَتْ لَهُ ذَلِكَ مِرَارًا، وَجَعَلَ لاَ يَلْتَفِتُ إِلَيْهَا، فَقَالَتْ
لَهُ: آللَّهُ الَّذِي أَمَرَكَ بِهَذَا؟ قَالَ: نَعَمْ، قَالَتْ: إِذَنْ لاَ
يُضَيِّعُنَا، ثُمَّ رَجَعَتْ
“… kemudian Ibrahim beranjak pergi, lalu ibunya
Ismail (Hajar) mengikutinya dan berkata: “Wahai Ibrahim, kamu mau pergi kemana?
kamu tinggalkan kami di lembah ini yang tidak ada manusia dan suatu apapun”.
Dia (Hajar) berkata seperti itu berulang kali dan Ibrahim tidak menoleh
kepadanya, lalu ia bertanya kepada Ibrahim: “Apakah Allah memerintahkan hal ini
kepadamu?” Ibrahim menjawab: ” iya “, lalu ia berkata: “Jika demikian, maka
Allah tidak akan menyia-nyiakan kami”, kemudian ia kembali …” (HR.
Al-Bukhari no. 3364 hadits Ibnu ‘Abbas).
Dalam hadits tersebut dijelaskan bahwa Hajar
sempat menanyakan beberapa kali kepada Ibrahim tentang kenapa ia beserta
anaknya ditinggalkan disana. Dan Ibrahim pun juga tidak menjawab pertanyaan
tersebut lantara Ibrahim harus menaati perintah RabbNya untuk tidak bercakap-cakap.
Setelah beberapa kali tidak mendapat jawaban, maka Hajar kembali menegaskan,
آللَّهُ
الَّذِي أَمَرَكَ بِهَذَا؟
“Allah-kah yang menyuruhmu untuk melakukan hal
ini?”
Ibrahim akhirnya menganggukan kepala sebagai
isyarat jawaban “iya”. Disinilah kita melihat, betapa tingginya keimanan Siti Hajar. Melihat isyarat
jawaban Ibrahim, maka Hajar pun menjawab dengan:
إِذَنْ
لاَ يُضَيِّعُنَا
“Kalau begitu, Allah tidak akan menelantarkan
kami.”
Puncak keistimewaan yang akan diraih oleh
orang-orang yang bertauhid adalah bahwa Allah Ta’ala akan memasukkan mereka ke
dalam surga tanpa hisab dan tanpa adzab. Keistimewaan ini hanya Allah Ta’ala janjikan bagi
mereka yang benar-benar membersihkan, memurnikan, dan menyempurnakan tauhidnya.
Untuk mewujudkan hal ini, tentu bukan hal yang mudah. Lalu, bagaimana cara kita
meraihnya?
اَللهُ
أَكْبَرُ، اللهُ أَكْبَرُ، وَلِلَّهِ الْحَمْدُ
Jamaah Idul Adha yang dimuliakan Allah,
Untuk membersihkan dan memurnikan tauhid, harus
terpenuhi tiga hal:
Pertama, memiliki ilmu yang sempurna tentang
tauhid. Karena tidak mungkin seseorang membersihkan
sesuatu tanpa terlebih dahulu mengetahui dan memahami sesuatu tersebut. Allah Ta’ala berfirman,
فَاعْلَمْ
أَنَّهُ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ
”Maka ketahuilah, bahwa
sesungguhnya tidak ada sesembahan yang benar melainkan Allah saja.” QS. Muhammad [47]: 19.
Dalam ayat ini, Allah Ta’ala memerintahkan
untuk meng-ilmui terlebih dahulu, sebelum mengucapkan kalimat tauhid.
Kedua, meyakini kebenaran tauhid yang telah
diilmuinya. Apabila seseorang hanya mengilmui (mengetahui) saja, akan tetapi tidak
meyakininya dan bahkan mengingkarinya, maka dia tidaklah membersihkan
tauhidnya. Allah Ta’ala berfirman tentang kesombongan orang-orang kafir yang
tidak meyakini keesaan Allah sebagai satu-satunya sesembahan padahal mereka
telah memahami makna laa ilaaha illallah,
أَجَعَلَ
الْآلِهَةَ إِلَهًا وَاحِدًا إِنَّ هَذَا لَشَيْءٌ عُجَابٌ
”Mengapa ia (Muhammad) menjadikan
sesembahan-sesembahan itu sebagai sesembahan yang satu saja? Sungguh ini adalah
suatu hal yang sangat mengherankan.” QS. Shaad [38]: 5.
Ketiga, mengamalkan tauhid tersebut dengan
penuh ketundukan. Jika kita telah mengilmui
dan meyakini, akan tetapi kita tidak mau mengamalkannya dengan penuh ketundukan, maka
kita belum bersih tauhidnya. Allah Ta’ala berfirman,
إِنَّهُمْ
كَانُوا إِذَا قِيلَ لَهُمْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ يَسْتَكْبِرُونَ
”Sesungguhnya mereka dahulu apabila dikatakan
kepada mereka, ’laa ilaaha illallah’, mereka menyombongkan diri.” QS.
Ash-Shaffat [37]: 35.
Apabila ketiga hal ini telah terpenuhi dan
seseorang benar-benar membersihkan serta memurnikan tauhidnya, maka jaminan
surga tersedia menjadi miliknya tanpa hisab dan tanpa adzab. Dalam hal ini,
kita tidak perlu mengatakan
”Insyaa
Allah”
karena hal tersebut adalah hukum yang telah ditetapkan
oleh syari’at.
Untuk menguatkan keimanan kita agar menjadi iman
aktif marilah kita memanjatkan doa kehadirat Allah Swt. Dan kita yakin doa ini
akan diamini para malaikat juga akan dikabulkan Allah Swt.
اللهُ أَكْبَرُ، اللهُ أَكْبَرُ،
وَلِلَّهِ الْحَمْدُ
اَلْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ
الْعَالَمِيْنَ. حَمْدًا يُوَافِيْ نِعَمَهُ وَيُكَافِئُ مَزِيْدَهُ - يَا
رَبَّنَا لَكَ الْحَمْدُ كَمَا يَنْبَغِيْ لِجَلاَلِ وَجْهِكَ الْكَرِيْمِ
وَعَظِيْمِ سُلْطَانِكَ - اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ
مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ،
إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ. وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ
كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ
مَجِيْدٌ.
اَللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ
وَالْمُسْلِمَاتِ، اْلأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَاْلأَمْوَاتِ. رَبَّنَا اغْفِرْ لَنَا
وَلإِخْوَانِنَا الَّذِيْنَ سَبَقُوْنَا بِاْلإِيْمَانِ وَلاَ تَجْعَلْ فِيْ
قُلُوْبِنَا غِلاًّ لِّلَّذِيْنَ ءَامَنُوْا رَبَّنَا إِنَّكَ رَءُوْفٌ رَّحِيْمٌ.
اَللَّهُمَّ افْتَحْ بَيْنَنَا وَبَيْنَ قَوْمِنَّا بِالْحَقِّ وَاَنْتَ خَيْرُ
الْفَاتِحِيْنَ. اَللَّهُمَّ إِنَّا نَسْأَلُكَ عِلْمًا نَافِعًا وَرِزْقًا
طَيِّبًا وَعَمَلاً مُتَقَبَّلاً. رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي
الآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ. وَصَلَّى اللهُ عَلَى نَبِيِّنَا
مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يِوْمِ
الدِّيْنِ.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar