Oleh : Abd. Hakim Abidin, M.A. (Rais ‘Amm
Pesantren Mambaus Sholihin, Gresik 2014-2015, dan Pendiri Zawiyah Ar-Rifaiyah,
Ciputat)
KHUTBAH I
اَلْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي فَرَضَ عَلَى
الْآبَاءِ وَالْأُمَّهَاتِ حُسْنَ تَرْبِيَةِ الْبَنِينَ وَالْبَنَاتِ، وَأَشْهَدُ
أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، أَرْسَلَ رَسُولَهُ
بِالْهُدَى وَدِينِ الْحَقِّ، فَدَلَّ النَّاسَ إِلَى الطَّرِيقِ الْقَوِيمِ
وَأَرْشَدَهُمْ إِلَى الطَّرِيقِ الْمُسْتَقِيمِ، وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا
مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَعَلَى آلِهِ
وَصَحْبِهِ وَسَلَّمَ تَسْلِيمًا كَثِيرًا. اللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى
سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ، وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ
إِلَى يَوْمِ الدِّينِ.
أَمَّا بَعْدُ، أُوْصِيْكُمْ، عبادَ
اللهِ، وَنَفْسِيْ الْخَاطِئَةَ اَلْمُقَصِّرَةَ بِتَقْوَى اللهِ سُبْحَانَهُ
وَتَعَالَى، فإنَّ التَّقْوَى وَصِيَّةُ اللهِ لِلْأَوَّلِيْنَ وَالْآخِرِيْنَ،
قالَ اللهُ سبحانهُ وتعالى (وَلَقَدْ وَصَّيْنَا ٱلَّذِينَ أُوتُواْ ٱلْكِتَٰبَ
مِن قَبْلِكُمْ وَإِيَّاكُمْ أَنِ ٱتَّقُواْ ٱللَّهَ)
Ma’asyiral Muslimin Rahimakumullah,
Mari kita senantiasa meningkatkan takwa kepada
Allah SWT. Sebab ketakwaan adalah bekal terbaik dalam menghadapi kehidupan
dunia dan akhirat. Ia bukan hanya kewajiban bagi diri kita sebagai orang
dewasa, tetapi juga tanggung jawab kita untuk menanamkannya kepada generasi
penerus, yaitu anak-anak kita. Sebagaimana firman Allah:
يَا
أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا قُوا أَنْفُسَكُمْ وَأَهْلِيكُمْ نَارًا
“Wahai orang-orang yang beriman! Peliharalah
dirimu dan keluargamu dari api neraka.” QS. At-Tahrim (66): 6.
Mendidik anak-anak dalam ketakwaan berarti
mengajarkan mereka untuk mengenal Allah, mencintai Al-Qur’an, dan membiasakan
amal kebaikan sejak dini. Anak-anak adalah amanah, dan di tangan merekalah masa
depan umat Islam. Maka, marilah kita jadikan rumah-rumah kita tempat di mana
anak-anak tumbuh dalam suasana iman, belajar akhlak mulia, dan diajarkan
nilai-nilai Islam yang kokoh.
Ma’asyiral Muslimin Rahimakumullah,
Islam memandang anak-anak dengan penuh
penghormatan dan penghargaan, karena anak-anak hari ini adalah generasi penerus
masa depan. Merekalah para pahlawan yang akan membangun kejayaan. Dan dengan
tangan merekalah peradaban ditegakkan.
Oleh sebab itu, Islam memberikan perhatian dan
penjagaan kepada mereka sejak kecil hingga mereka dewasa. Jika kita merenungkan
petunjuk Nabi Muhammad SAW dalam mendidik dan membesarkan anak-anak, kita akan
mendapati bahwa beliau telah menetapkan prinsip-prinsip terbaik dalam
pendidikan, yang melebihi metode pendidikan modern. Allah SWT berfirman:
وَذَكِّرْ
فَإِنَّ الذِّكْرَى تَنفَعُ الْمُؤْمِنِينَ
“Dan berilah peringatan, karena peringatan itu
bermanfaat bagi orang-orang Mukmin.” QS. Adz-Dzariyat (51): 55.
Maka, izinkanlah dalam kesempatan ini untuk saling
mengingatkan tentang hak-hak anak kepada orang tuanya yang harus dipenuhi.
Ma’asyiral Muslimin Rahimakumullah,
Ketahuilah bahwa setiap anak dilahirkan dalam keadaan
fitrah. Tetapi orang tuanyalah yang menjadikan mereka Yahudi, Nasrani, atau
Majusi. Hal ini sebagaimana yang disabdakan oleh Rasulullah SAW:
كلُّ
مَوْلُوْدٍ يُوْلَدُ عَلَى الْفِطْرَةِ فَأَبَوَاهُ يُهَوِّدَانِهِ أَوْ
يُنَصِّرَانِهِ أَوْ يُمجِّسَانِهِ
“Setiap anak itu dilahirkan dalam keadaan
fitrah. Kedua orang tuanyalah yang membuatnya menjadi orang Yahudi, orang
Nasrani ataupun orang Majusi.” (HR. Ibnu Hibban)
Oleh karena itu, sebagaimana anak yang baru lahir
memerlukan landasan yang kokoh, nilai-nilai, dan prinsip tertentu agar tumbuh
dengan sehat dan sempurna, maka tentu tidak dibenarkan jika orang tua hanya
memperhatikan kebutuhan makan, minum, pakaian, dan pengobatan anak, tetapi
melupakan aspek agama, sosial, serta pendidikan akhlak dan intelektualnya. Ini
adalah tanggungjawab yang diemban oleh setiap orang tua. Rasulullah SAW
bersabda:
كُلُّكُمْ رَاعٍ وَمَسْئُولٌ عَنْ
رَعِيَّتِهِ فَالْإِمَامُ رَاعٍ وَمَسْئُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ وَالرَّجُلُ فِي
أَهْلِهِ رَاعٍ وَهُوَ مَسْئُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ وَالْمَرْأَةُ فِي بَيْتِ
زَوْجِهَا رَاعِيَةٌ وَهِيَ مَسْئُولَةٌ عَنْ رَعِيَّتِهَا وَالْخَادِمُ فِي مَالِ
سَيِّدِهِ رَاعٍ وَهُوَ مَسْئُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ
“Setiap kalian adalah pemimpin dan akan diminta
pertanggung jawaban atas yang dipimpinnya. Seorang imam (kepala Negara) adalah
pemimpin dan akan diminta pertanggung jawaban atas rakyatnya. Seorang suami
dalam keluarganya adalah pemimpin dan akan diminta pertanggung jawaban atas
orang yang dipimpinnya. Seorang isteri di dalam rumah tangga suaminya adalah
pemimpin dia akan diminta pertanggung jawaban atas siapa yang dipimpinnya.
Seorang pembantu dalam urusan harta tuannya adalah pemimpin dan dia akan diminta
pertanggung jawaban atasnya.” (HR. Bukhari)
Jadi, di sini harus benar-benar dipahami, bahwa
mendidik anak adalah amanah yang besar dan tanggung jawab yang berat. Sebagai
orang beriman, maka kita tidak boleh mengabaikan amanah ini dalam hidup yang
kita jalani.
Ma’asyiral Muslimin Rahimakumullah,
Sebagai motivasi, Allah telah menjanjikan pahala
besar bagi mereka yang sabar dalam mendidik anak. Dari Aisyah radhiyallahu
‘anha, ia berkata:
دَخَلَتْ عَلَيَّ امْرَأَةٌ مَعَهَا
ابْنَتَانِ لَهَا، فَأَطْعَمْتُهَا تَمْرَةً، فَشَقَّتْهَا بَيْنَهُمَا، وَلَمْ
تَأْكُلْ مِنْهَا شَيْئًا فَدَخَلَ عَلَيَّ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ
وَسَلَّمَ، فَذَكَرْتُ لَهُ ذَلِكَ، فَقَالَ: مَنْ ابْتُلِيَ مِنَ الْبَنَاتِ
بِشَيْءٍ، فَأَحْسَنَ صُحْبَتَهُنَّ، كُنَّ لَهُ سِتْرًا مِنَ النَّارِ
“Seorang wanita masuk menemuiku bersama dua
anak perempuannya. Aku memberikan sebiji kurma kepadanya, lalu wanita itu
membelah kurma tersebut menjadi dua dan memberikannya kepada kedua anaknya,
sementara ia sendiri tidak memakan sedikit pun darinya. Kemudian Rasulullah SAW
masuk menemuiku, maka aku menceritakan hal itu kepada beliau. Beliau bersabda:
‘Barang siapa yang diuji dengan (kehadiran) anak-anak perempuan, lalu ia
memperlakukan mereka dengan baik, maka mereka akan menjadi penghalang baginya dari
api neraka.’” (HR. Ahmad)
Tetapi, jika diamati, ternyata tidak sedikit orang
tua yang terkadang mengabaikan keadilan terhadap anak-anak mereka, baik dalam
memberi maupun menahan. Mereka cenderung memihak kepada sebagian anak, yang
menimbulkan rasa iri di antara mereka, bahkan bisa berujung pada kebencian
terhadap sesama saudara atau bahkan terhadap orang tua mereka sendiri. Rasulullah
SAW bersabda:
فَاتَّقُوا
اللَّهَ واعْدِلُوا بيْنَ أوْلَادِكُمْ
“Bertakwalah kepada Allah dan berlaku adillah
di antara anak-anak kalian.” (HR. Bukhari)
Ma’asyiral Muslimin Rahimakumullah,
Pada masa Jahiliyah, orang-orang lebih
mengutamakan anak laki-laki dibanding anak perempuan. Bahkan, ada yang sampai
bercerai karena istrinya melahirkan anak perempuan, seolah-olah perempuan yang
menentukan jenis kelamin anak. Padahal semuanya telah ditetapkan oleh Allah
SWT. Sebagaimana ditegaskan di dalam firman-Nya berikut:
لِلَّهِ مُلْكُ السَّمَاوَاتِ
وَالْأَرْضِ يَخْلُقُ مَا يَشَاءُ يَهَبُ لِمَنْ يَشَاءُ إِنَاثًا وَيَهَبُ لِمَنْ
يَشَاءُ الذُّكُورَ. أَوْ يُزَوِّجُهُمْ ذُكْرَانًا وَإِنَاثًا وَيَجْعَلُ مَنْ
يَشَاءُ عَقِيمًا إِنَّهُ عَلِيمٌ قَدِيرٌ
“Kepunyaan Allah-lah kerajaan langit dan bumi.
Dia menciptakan apa yang Dia kehendaki. Dia memberikan anak perempuan kepada
siapa yang Dia kehendaki, dan memberikan anak laki-laki kepada siapa yang Dia
kehendaki, atau Dia menganugerahkan kedua jenis itu (anak laki-laki dan
perempuan), dan menjadikan mandul siapa yang Dia kehendaki. Sesungguhnya Dia
Maha Mengetahui lagi Maha Kuasa.” QS. Asy-Syura (42): 49-50.
Diriwayatkan oleh Imam Bukhari dalam Al-Adab
Al-Mufrad, dari Abdullah Ibnu Umar radhiyallahu ‘anhuma, bahwa ada seorang
lelaki yang memiliki anak perempuan, lalu ia berharap mereka mati. Mendengar
hal itu, Abdullah Ibnu Umar naik pitam dan berkata:
أَأَنْتَ
تَرْزُقُهُنَّ؟
“Apakah engkau yang memberi mereka rezeki?”
Karena itu, baik anak laki-laki maupun perempuan
mempunyai hak yang sama untuk diperhatikan oleh orang tuanya. Semua itu adalah
anugerah dan merupakan amanah dari Allah SWT.
Ma’asyiral Muslimin Rahimakumullah,
Di sini juga harus dipahami, bahwa Islam telah
menetapkan hak-hak anak yang wajib dipenuhi oleh para orang tua. Adapun di
antara hak-hak tersebut adalah sebagai berikut:
Hak pertama, memilihkan ibu yang baik untuk
anak. Rasulullah SAW bersabda:
تَخَيَّرُوا
لِنُطَفِكُمْ
“Pilihlah tempat yang baik untuk air mani
kalian.” (HR. Ibnu Majah)
Mengenai Hadis ini, yang dimaksud tentu adalah
pasangan yang baik dalam agamannya, sebagaimana keterangan dalam Hadis lain,
Rasulullah SAW juga bersabda:
تُنكَحُ
المرأةُ لِأَرْبَعٍ، لِمَالِهَا وَلِحَسَبِهَا وَلِجَمَالِهَا وَلِدِيْنِهَا
فَاظْفَرْ بِذَاتِ الدِّيْنِ تَرِبَتْ يَدَاكَ
“Seorang wanita dinikahi karena empat perkara:
hartanya, keturunannya, kecantikannya, dan agamanya. Maka pilihlah wanita yang
beragama, niscaya engkau akan beruntung.” (HR. Bukhari dan Muslim).
Hak kedua, meminta perlindungan kepada Allah
ketika berhubungan suami istri. Mungkin hal ini
terdengar remeh, tetapi pada hakikatnya sangatlah penting, tidak hanya untuk
kebaikan suami istri, melainkan juga untuk anak yang dilahirkannya kelak. Mengenai
hal ini Rasulullah SAW bersabda:
لَوْ أَنَّ أَحَدَكُمْ إِذَا أَرَادَ
أَنْ يَأْتِيَ أَهْلَهُ، قَالَ: بِسْمِ اللَّهِ، اللَّهُمَّ جَنِّبْنَا
الشَّيْطَانَ وَجَنِّبِ الشَّيْطَانَ مَا رَزَقْتَنَا، ثُمَّ قُدِّرَ أَنْ يَكُونَ
بَيْنَهُمَا وَلَدٌ فِي ذَلِكَ لَمْ يَضُرَّهُ شَيْطَانٌ أَبَدًا
“Jika salah seorang dari kalian mendatangi
istrinya (untuk berhubungan), lalu ia membaca: Bismillah, Allahumma jannibna
asy-syaithan wa jannib asy-syaithan ma razaqtana (Dengan nama Allah, jauhkanlah
kami dari setan, dan jauhkan setan dari apa yang Engkau anugerahkan kepada
kami), maka jika ditakdirkan lahirnya anak dari hubungan itu, setan tidak akan
membahayakannya selamanya.” (HR. Abu Dawud)
Ma’asyiral Muslimin Rahimakumullah,
Hak ketiga, mengumandangkan adzan di telinga
anak yang baru lahir. Dalam keterangan Ibnu Sunni,
sebagaimana yang dikutip dalam kitab I’anatut Thalibin, disampaikanlah riwayat
berikut:
مَنْ
وُلِدَ لَهُ مَوْلُودٌ فَأَذَّنَ لَهُ فِي أُذُنِهِ الْيُمْنَى، وَأَقَامَ فِي
الْيُسْرَى، لَمْ تَضُرَّهُ أُمُّ الصِّبْيَانِ
“Barang siapa yang dikaruniai anak, lalu ia
mengumandangkan adzan di telinga kanannya dan iqamah di telinga kirinya, maka
anak itu tidak akan diganggu oleh ummu shibyan (yaitu gangguan jin pada
anak-anak).”
Selaras dengan keterangan tersebut, di dalam Sunan
At-Tirmidzi terdapat Hadis shahih yang terkait fakta bahwa Rasulullah SAW
pernah mengumandangkan adzan di telinga kanan Husain bin Ali, saat cucunya itu
dilahirkan oleh Fatimah.
عَنْ عُبَيْدِ اللهِ بْنِ أَبِي رَافِعٍ،
عَنْ أَبِيهِ قَالَ: رَأَيْتُ رَسُولَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ
أَذَّنَ فِي أُذُنِ الْحَسَنِ بْنِ عَلِيٍّ حِينَ وَلَدَتْهُ فَاطِمَةُ
بِالصَّلَاةِ
“Dari Ubaidullah bin Abu Rafi’, dari ayahnya,
ia berkata: ‘Aku melihat Rasulullah SAW mengumandangkan azan di telinga Hasan
bin Ali ketika Fatimah melahirkannya.’” (HR. At-Tirmidzi)
Hadis ini menunjukkan adanya kesunnahan
mengumandangkan azan di telinga kanan bayi yang baru lahir. Hal ini dilakukan
agar kalimat pertama yang didengar oleh bayi adalah seruan kepada Allah dan
tauhid. Makna simbolis dari tindakan ini adalah menanamkan dasar keimanan sejak
awal kehidupan seorang anak.
Oleh karena itu, para ulama sepakat adanya
kesunnahan mengumandangkan adzan di telinga kanan bayi yang baru dilahirkan,
dan iqomah di telinga kirinya. Dan sebagaimana hal itu dilakukan ketika
kelahiran, demikian pula sunnah dilakukan ketika menguburkan seseorang.
Ma’asyiral Muslimin Rahimakumullah,
Di dalam kitab I’anatut Thalibin, Syaikh Abu Bakar
Syatha menjelaskan adanya kesunnahan membaca surat Al-Ikhlas di telinga kanan
anak yang baru dilahirkan. Hal ini disampaikan sebagaimana keterangan Hadis
yang terdapat di dalam Musnad Abi Razin.
Selain itu, terdapat juga keterangan dalam I’anatut
Thalibin, yang berupa kutipan bahwa Syaikh Dairabi mengatakan, “Barang siapa
yang membacakan surat Al-Qadar (إنا أنزلناه) di telinga kanan anak yang baru dilahirkan, maka anak itu
akan terhindar dari perbuatan zina sepanjang hidupnya.”
Ditambah juga dianjurkan agar membaca ayat
berikut:
وَإِنِّي
أُعِيذُهَا بِكَ وَذُرِّيَّتَهَا مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيمِ
Mungkin di sini ada yang meragukan amalan
tersebut, tetapi bagaimanapun harus dipahami, bahwa pada dasarnya amalan semua
itu dianjurkan untuk dilakukan, tidak lain adalah sebagai ikhtiar untuk menjaga
kebaikan hidup anak yang baru dilahirkan itu sendiri. Jadi perdebatan yang
tidak berarti mengenai tradisi tersebut kiranya tidaklah diperlukan.
Ma’asyiral Muslimin Rahimakumullah,
Adapun hak keempat, adalah memberi nama yang baik
bagi anak. Hal ini sebagaimana makna tersirat dalam surat Ali Imran ayat 36,
Allah SWT berfirman:
فَلَمَّا وَضَعَتْهَا قَالَتْ رَبِّ
اِنِّيْ وَضَعْتُهَآ اُنْثٰىۗ وَاللّٰهُ اَعْلَمُ بِمَا وَضَعَتْۗ وَلَيْسَ
الذَّكَرُ كَالْاُنْثٰى ۚ وَاِنِّيْ سَمَّيْتُهَا مَرْيَمَ وَاِنِّيْٓ اُعِيْذُهَا
بِكَ وَذُرِّيَّتَهَا مِنَ الشَّيْطٰنِ الرَّجِيْمِ
“Ketika melahirkannya, dia berkata, ‘Wahai
Tuhanku, aku telah melahirkan anak perempuan.’ Dan, Allah lebih tahu apa yang
dia (istri Imran) lahirkan. Laki-laki tidak sama dengan perempuan. ‘Aku
memberinya nama Maryam serta memohon perlindungan-Mu untuknya dan anak cucunya
dari setan yang terkutuk.’”
Mengenai kenapa dianjurkan agar memberi nama yang
baik, dalam sebuah riwayat Hadis, Rasulullah SAW bersabda:
إِنَّكُمْ
تُدْعَوْنَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ بِأَسْمَائِكُمْ وَأَسْمَاءِ آبَائِكُمْ
فَأَحْسِنُوا أَسْمَاءَكُمْ
“Sesungguhnya kalian akan dipanggil pada hari
kiamat dengan nama kalian dan nama ayah kalian. Maka, perbaguslah nama kalian.”
(HR. Ad-Darimi)
Adapun nama yang paling disukai Allah adalah nama
yang mengandung penghambaan kepada-Nya, seperti Abdullah dan Abdurrahman, lalu
nama para nabi, khususnya Nabi Muhammad, atau nama orang-orang sholeh, kemudian
nama-nama yang bermakna kebaikan.
Sedangkan penamaan itu baiknya dilakukan pada hari
ketujuh dari lahirnya sang anak, sebelum dilakukannya penyembelihan hewan aqiqah.
Sebagaimana keterangan dalam Hadis berikut:
أنَّ
النبيَّ صلَّى اللهُ عليهِ وسلَّم أَمَر بِتَسمِيةِ المَولودِ يومَ سابِعِه،
وَوَضْعِ الأَذى عنه، والعَقِّ
“Bahwa Nabi SAW memerintahkan agar memberi nama
kepada bayi pada hari ketujuh, membersihkan kotoran (memotong rambut) darinya,
dan melakukan aqiqah untuknya.” (HR. At-Tirmidzi)
Ma’asyiral Muslimin Rahimakumullah,
Selanjutnya, hak kelima, memberi ASI kepada
anak. Hal ini sebagaimana keterangan dalam firman
Allah berikut:
وَالْوَالِدَاتُ
يُرْضِعْنَ أَوْلَادَهُنَّ حَوْلَيْنِ كَامِلَيْنِ لِمَنْ أَرَادَ أَنْ يُتِمَّ
الرَّضَاعَةَ
“Para ibu hendaklah menyusui anak-anaknya
selama dua tahun penuh, yaitu bagi yang ingin menyempurnakan penyusuan.” QS.
Al-Baqara (2): 233.
Para ulama menjelaskan bahwa menyusui anak adalah
kewajiban ibu, selama ia mampu. Dan hal itu dalam tanggungan suaminya. Sebagaimana
diuji secara ilmiah, bahwa ASI adalah makanan terbaik untuk bayi, mengandung
gizi, imun, nutrisi otak, dan kasih sayang yang dibutuhkan anak. Karena itu,
sangat dianjurkan agar hal itu benar-benar diperhatikan.
Hak keenam, orang tua harus memerintahkan pada
kebaikan dan melarang kemungkaran. Hal ini sebagaimana
ditegaskan di dalam firman Allah SWT berikut:
يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا قُوْٓا
اَنْفُسَكُمْ وَاَهْلِيْكُمْ نَارًا وَّقُوْدُهَا النَّاسُ وَالْحِجَارَةُ
عَلَيْهَا مَلٰۤىِٕكَةٌ غِلَاظٌ شِدَادٌ لَّا يَعْصُوْنَ اللّٰهَ مَآ اَمَرَهُمْ
وَيَفْعَلُوْنَ مَا يُؤْمَرُوْنَ
“Wahai orang-orang yang beriman, jagalah dirimu
dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu.
Penjaganya adalah malaikat-malaikat yang kasar dan keras. Mereka tidak durhaka
kepada Allah terhadap apa yang Dia perintahkan kepadanya dan selalu mengerjakan
apa yang diperintahkan.” QS. At-Tahrim (66): 6.
Rasulullah SAW juga bersabda:
مُرُوا
أَوْلَادَكُمْ بِالصَّلَاةِ وَهُمْ أَبْنَاءُ سَبْعِ سِنِينَ وَاضْرِبُوهُمْ
عَلَيْهَا وَهُمْ أَبْنَاءُ عَشْرٍ وَفَرِّقُوا بَيْنَهُمْ فِي الْمَضَاجِعِ
“Perintahkanlah anak-anak kalian untuk
melaksanakan shalat saat mereka berusia tujuh tahun, dan pukullah mereka (jika
meninggalkannya) ketika berusia sepuluh tahun, serta pisahkan tempat tidur
mereka.” (HR. Abu Dawud)
Di sini dapat diperhatikan, Ayat Qur’an dan Hadis
di atas menekankan pentingnya tanggung jawab orang tua dalam membimbing
anak-anak mereka kepada kebaikan dan menjauhkan mereka dari keburukan,
khususnya dalam menanamkan nilai-nilai agama seperti shalat.
Ma’asyiral Muslimin Rahimakumullah,
Hak ketujuh, orang tua harus perhatian dalam
membimbing dan mendidik dengan akhlak yang mulia.
Islam sangat menekankan pentingnya akhlak. Akhlak adalah bagian dari iman, dan
orang yang berpegang pada akhlak yang baik dianggap sebagai orang terbaik di
sisi Allah. Sebagaimana sabda Rasulullah SAW berikut:
إِنَّ
خِيَارَكُمْ أَحْسَنُكُمْ أَخْلَاقًا
“Sesungguhnya orang terbaik di antara kalian
adalah yang paling baik akhlaknya.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Akhlak yang baik, seperti kejujuran, kesabaran,
kedermawanan, ketulusan, serta senantiasa merasa diawasi Allah, menjadi
pelindung bagi anak-anak dari godaan setan dan penyimpangan yang berbahaya. Allah
SWT berfirman:
وَمَن
يَعْتَصِم بِاللَّهِ فَقَدْ هُدِيَ إِلَىٰ صِرَاطٍ مُّسْتَقِيمٍ
“Barang siapa yang berpegang teguh kepada
Allah, maka dia telah diberi petunjuk kepada jalan yang lurus.” QS. Ali
Imran (3): 101.
Ditegaskan pula dalam sebuah syair:
إِنَّمَا
الْأُمَمُ الْأَخْلَاقُ مَا بَقِيَتْ # فَإِنْ هُمْ ذَهَبَتْ أَخْلَاقُهُمْ
ذَهَبُوا
“Sesungguhnya kemuliaan suatu bangsa tergantung
pada akhlaknya. Jika akhlak mereka hilang, maka bangsa itu pun akan binasa.”
Jadi, orang tua wajib mengajarkan anak-anak mereka
untuk memiliki sifat-sifat seperti kejujuran, amanah, kesabaran, dan
keberanian, serta menjauhi sifat-sifat tercela seperti dusta dan pergaulan
buruk. Nabi SAW pernah bersabda:
مَا نَحَلَ وَالِدٌ
وَلَدًا مِنْ نَحْلٍ أَفْضَلُ مِنْ أَدَبٍ حَسَنٍ
“Tidak ada pemberian orang tua kepada anaknya
yang lebih baik daripada adab yang mulia.” (HR. Tirmidzi)
Ma’asyiral Muslimin Rahimakumullah,
Hak kedelapan, yaitu hak anak untuk bermain.
Rasulullah SAW bersabda:
اِلْهُوا
وَالْعَبُوا، فَإِنِّي أَكْرَهُ أَنْ أَرَى فِي دِينِكُمْ غِلْظَةً
“Bermainlah dan bersenang-senanglah, karena aku
tidak suka melihat kekakuan dalam agama kalian.” (HR. Imam Baihaqi)
Aisyah radhiyallahu ‘anha biasa bermain bersama
teman-temannya ketika tinggal bersama Nabi SAW, dan Nabi SAW sendiri sering
bermain-main dengan anak-anak kaum Muslimin.
Dalam sebuah Hadis, terdapat gambaran nyata betapa
Rasulullah sangat senang kepada kedua cucunya, dan bahkan menemani mereka
berdua bermain di kala masa kanak-kanaknya. Diriwayatkan oleh At-Thabrani bahwa
Abu Ayyub Al-Anshari berkata:
دَخَلْتُ عَلَى رَسُولِ اللهِ صَلَّى
اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَالْحَسَنُ وَالْحُسَيْنُ رَضِيَ اللهُ عَنْهُمَا
يَلْعَبَانِ بَيْنَ يَدَيْهِ، وَفِي حِجْرِهِ، فَقُلْتُ: يَا رَسُولَ اللهِ أَتُحِبُّهُمَا؟، قَالَ:
وَكَيْفَ لَا أُحِبُّهُمَا وَهُمَا رَيْحَانَتَايَ مِنَ الدُّنْيَا أَشُمُّهُمَا
"Aku mendatangi Rasulullah SAW yang sedang
bersama Hasan dan Husain yang bermain di pangkuannya. Lalu aku bertanya, ‘Wahai
Rasulullah, apakah engkau mencintai keduanya?’ Beliau menjawab, ‘Bagaimana aku
tidak mencintai mereka, sedangkan mereka adalah dua bunga harumnya dunia ini
yang kucium.’”
Ma’asyiral Muslimin Rahimakumullah,
Karena itu, mari kita meningkatkan takwa kepada
Allah dan benar-benar perhatian dalam hal memenuhi hak-hak anak. Jika kita
mendidik mereka dengan baik, hal itu akan kembali kepada kita dalam bentuk
kebaikan, bakti, dan ketaatan. Dan pada hakikatnya, sebagaimana anak-anak
adalah cerminan dari orang tuanya, mereka akan tumbuh mengikuti jejak dan
tabiat orang tua mereka. Sebagaimana sebuah syair mengatakan:
يَنْشَأُ
الصَّغِيرُ عَلَى مَا كَانَ وَالِدُهُ # إِنَّ الْعُرُوقَ عَلَيْهَا يَنْبُتُ
الشَّجَرُ
“Seorang anak akan tumbuh sebagaimana kebiasaan
orang tuanya, karena pohon hanya tumbuh dari akar yang sama.”
Sebagaimana kita menuntut anak untuk berbakti
kepada orang tua, pada saat yang sama kita juga dituntut untuk memenuhi hak-hak
anak tersebut. Di sinilah kita harus berlaku adil. Harus ada kesimbangan dalam
hidup, yang mana hal itu tidak lain juga untuk kebaikan kita sendiri.
بَارَكَ اللهُ لِيْ وَ لَكُمْ فِي
الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ وَنَفَعَنَا وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ الْآيَاتِ
وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ فَاسْتَغْفِرُوهُ إِنَّهُ هُوَ التَّوَّابُ الرَّحِيْمُ.
KHUTBAH II
اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ وَكَفَى، وَأُصَلِّيْ
وَأُسَلِّمُ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ الْمُصْطَفَى، وَعَلَى اٰلِهِ
وَأَصْحَابِهِ أَهْلِ الصِّدْقِ وَالْوَفَا. أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا
اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا
عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ.
أَمَّا بَعْدُ، فيَآايُّهاالنّاسُ،
اِتَّقُوا اللهَ تَعَالَى وَذَرُوا الْفَوَاحِشَ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ
وَحَافِظُوْا عَلَى الطَّاعَةِ وَحُضُورِ الْجُمُعَةِ والْجَمَاعَةِ. وَاعْلَمُوا أَنَّ
اللهَ أَمَرَكُمْ بِأَمْرٍ بَدَأَ فِيه بِنَفْسِهِ وَثَنَّى بِمَلائكةِ قُدْسِهِ،
فَقالَ تَعَالَى ولَمْ يَزَلْ قائِلاً عَلِيمًا: إِنَّ اللهَ وَملائكتَهُ
يُصَلُّونَ على النَّبِيِّ يَآ أَيّها الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ
وسَلِّمُوا تَسْلِيْمًا.
اللَّهمَّ صَلِّ وسَلِّمْ على سيِّدِنا
محمَّدٍ وعلى آلِ سيِدِنَا محمَّدٍ كَما صَلَّيْتَ على سيِّدِنا إِبْرَاهِيْمَ
وَعَلَى آلِ سيِّدِنَا إِبراهِيمَ في الْعالَمِينَ إِنَّكَ حَمِيدٌ مَجِيدٌ.
اللَّهمَّ وَارْضَ عَنِ الْخُلَفَاءِ الرّاشِدِينَ الَّذينَ قَضَوْا بِالْحَقِّ
وَكانُوا بِهِ يَعْدِلُونَ أَبي بَكْرٍ وعُمرَ وعُثْمانَ وعلِيٍّ وَعَنِ السِّتَّةِ
الْمُتَمِّمِينَ لِلْعَشْرَةِ الْكِرامِ وعَنْ سائِرِ أَصْحابِ نَبِيِّكَ
أَجْمَعينَ وَعَنِ التَّابِعِينَ وتَابِعِي التَّابِعِينَ وَمَنْ تَبِعَهُمْ
بِإِحْسانٍ إِلَى يَومِ الدِّينِ. اللَّهمَّ لا تَجْعَلْ لِأَحَدٍ مِنْهُمْ فِي
عُنُقِنَا ظَلَامَةً ونَجِّنَا بِحُبِّهِمْ مِنْ أَهْوَالِ يَومِ الْقِيامَةِ.
اَللَّهُمَّ أَعِزَّ الْإِسْلَامَ
والمُسْلِمِيْنَ وأَهْلِكِ الْكَفَرَةَ وَالْمُشْركِينَ، ودَمِّرْ أَعْداءَ
الدِّينِ. اَللَّهُمَّ أَصْلِحْ أَحْوَالَنَا وَأَحْوَالَ الْمُسْلِمِيْنَ
وَاجْعَلْ وِلَايَتَنَا فِيْمَنْ خَافَكَ وَاتَّقَاكَ، وَاتَّبَعَ رِضَاكَ يَا
أَرْحَمَ الرَّاحِمِيْنَ.
اللَّهمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ
وَالْمُسْلِمَاتِ والْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ الْأَحْياءِ مِنْهُمْ
والْأَمْواتِ بِرَحْمَتِكَ يَا وَاهِبَ الْعَطِيَّاتِ. اللَّهمَّ ادْفَعْ عَنَّا
الْبَلَاءَ والوَباءَ والزِّنا والزَّلَازِلَ وَالمِحَنَ وَسُوءَ الفِتَنِ ما
ظَهَرَ مِنْها وما بَطَنَ عَنْ بَلَدِنا هَذا خاصَّةً وعَنْ سائِرِ بِلَادِ
الْمُسلمينَ عامَّةً يا رَبَّ الْعَالَمِينَ.رَبَّنا آتِنا في الدّنيا حَسَنَةً
وَفي الآخرة حَسَنَةً وقِنَا عَذَابَ النَّارِ.
عِبادَ اللهِ، إِنَّ اللهَ يَأْمُرُ
بِالْعَدْلِ والْإِحْسان وإِيتاءَ ذِي الْقُرْبَى ويَنْهَى عَنِ الْفَحْشاءِ
والْمُنْكَرِوَالْبَغْيِ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ، فَاذْكُرُوا اللهَ
العَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ وَاشْكُرُوهُ على نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ وَاسْئَلُوهُ مِنْ
فَضْلِهِ يُعْطِكُمْ وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرُ.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar